KERETA API YANG DAHULU BERAPI API

Sabtu, Juli 06, 2019 di Sabtu, Juli 06, 2019

(Foto: Koleksi Pribadi)

AWAL TAHUN 90 - Di suatu siang yang terik, beberapa siswa nampak berpeluh diwajah, sebahagian masih terlihat belum mengganti seragam putihnya yang berlambang OSIS. Mereka saling berkejaran, berlomba mengayuh sepedanya hingga akhirnya berhenti dan memilih berpisah di depan toko “ SS Motor”, sebuah toko yang menjual oli dan beberapa sparepart kendaraan di sudut simpang empat bundaran jalan Veteran Selatan Mks.

Tampak bangunan Toko SS Motor berkesan kokoh. Semburat coklat pudar mendominasi. Bangunannya tak menyolok. Toko ini berdiri membentuk setengah lingkaran menghadap ke utara dengan arsitektur bercorak karakteristik romansa pecinan Mks tempo doeloe. Umurnya mungkin sudah puluhan tahun bahkan lebih. Letaknya cukup strategis berada di antara ujung jalan Veteran Selatan- Ratulangi-pasar Pabaeng-baeng dan Jl. Kumala. Tempat ini kerap menjadi lokasi pangkalan bagi para tukang becak dan supir pete-pete yang menunggu calon penumpang trayek, Veteran–Kampus di perintis kemerdekaan.

Sekali waktu, pemiliknya menuturkan, nama SS yg melekat di tokonya itu berarti ‘suka sama suka’. Pesannya singkat dan mudah diingat. Seolah menitip harapan kepada setiap orang yang datang berbelanja ditempatnya itu agar selalu suka dan senang dengan pelayanan toko Nama ibarat doa, cerminan ideologi harapan yang terwakili dari sang empunya. Nama toko yang simpel. Pemilik toko tersebut boleh jadi tak suka dengan nama yg ribet. ‘Apalah arti sebuah nama’, toh pada akhirnya sekuntum mawar tetap menyerbakkan harumnya meski namanya di gonta-ganti.

Entah secara kebetulan atau tidak, tak jauh dari toko itu, ada satu cerita 'to riolo' dari beberapa painung (peminum) kopi, warga senior to towayya yg kerap nongkrong disana menyebutkan, bahwa muasal inisial SS itu ada kecocokan juga mengenai sejarah sebuah SS (Staats Spoorwegen) dimana SS ini adalah sebutan orang belanda saat itu untuk sebuah perusahaan Jawatan Kereta Api milik Hindia Belanda yang pernah beroperasi di Makassar saat jaman penjajahan Belanda, dimana bekas lokasi stasiun kereta tersebut berdiri tak jauh dari toko SS Veteran tersebut.

***
Syahdan, sejarah meriwayatkan nun jauh sebelum  luas kota Ujung Pandang masih sepelemparan batu, saat jalan Gunung Bawakaraeng Mks membentang tanpa hambatan hingga sampai ke Daya masih bernama Jalan Maros (Maros Weg), suasana kota Makassar masih hidup berkelompok dan berumpun rumpun, terdiri dari pelbagai kampung kampung etnis antara lain kampung Buton di pesisir pantai (sekarang pasar Butung), kampung Balanda didekat kampung Buton, yang sekarang disebut jalan Riburane, dan Sawerigading, Bongaya di sekitaran Jalan Kumala, Kampung Pecinan di area jalan Bali dan sekitarnya, Kampung Melayu di seputaran jalan Diponegoro, kampung Paotere serta beberapa lagi yang lainnya.

Karena daerah pasar Butung merupakan jalur strategis dipinggir pantai, yaitu jalur segitiga emas pintu masuk ekonomi perdagangan sehingga atas kebijakan pemerintah waktu itu yang bernama J. E Dambrink, seorang calon walikota Makassar pertama yang juga berkebangsaan Belanda, Ia berinisiatif membangun beberapa sarana penunjang seperti gedung sekolah, gedung kesenian, rumah ibadah dan juga stasiun kereta api pertama di Makassar untuk memperlancar roda pembangunan. Akhirnya Stasiun pertama kereta api pun dibuat. Di beberapa laman media termasuk wikipedi menyebutkan, pada sekitar juli 1923,  rute rel kereta api di Sulawesi beroperasi dengan menempuh rute sepanjang 47 km menghubungkan kota Makassar- Sungguminasa-Limbung sampai ke Takalar. 

Tujuan awalnya adalah untuk mengangkut hasil bumi tebu di Takalar untuk di kirim ke pabrik gula di pulau Jawa dengan menggunakan kapal laut. Rel-rel kereta api ini tertanam di sepanjang jalan melintasi daerah Bontoala, Maricaya, Jongaya, Parang Tambung yaitu jalan Tentara Pelajar, jalan Ujung, jalan Veteran, Muhammad Tahir dan daeng Tata. Adapun bengkel kereta api saat itu berada di SS (Staats Spoorwegen). SS adalah Sebutan belanda berupa sebutan untuk sebuah jawatan perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda yang dahulu lokasi tak jauh dari jalan Veteran dan sekarangnya sudah menjadi Sekolah teknik Negeri Menengah. Tarif kereta sekali naik waktu itu bervariasi dari 10- 40 sen. Karena target pengiriman tebu tidak terpenuhi dan semakin banyaknya mobil yang masuk ke Makassar, pengoperasian kereta api dianggap sudah tidak menguntungkan dan akhirnya ditutup oleh pemerintah saat itu pada tahun 1930.

***

Sepulang dari menemani si sulung bermain Kereta-Apian di sebuah Mall kawasan Center Point Of Indonesia Tanjung Bunga Mks, saya iseng mencari info terbaru lewat mbah google di henponG mengenai kelanjutan rencana pembangunan proyek perkereta apian di Sulawesi. Di awal tahun 2016 kemarin, sejarah perkereta-apian di Sulawesi telah tertoreh dengan review sebuah video youtube Uji coba perdana di fungsikannya kereta api Sulsel oleh Bapak Gubernur saat itu.

Uji coba ini sekaligus sebagai pengukuhan simbolisasi telah di buatnya sebuah kado proyek prestisius kereta api pertama di luar pulau jawa dan sumatera. Bantalan rel pertama telah terpancang di titik nol kilometer daerah Tanete Rilau kab. Barru. Secara berkesinambungan, hingga akhir tahun 2015, rel sepanjang 16 kilometer diupayakan rampung, kemudian berlanjut ke Pare Pare kurang lebih 145 km dan berikutnya lagi akan dimulai dari Manado dengan target pelesaian jalur rel selesai hingga tahun 2018.

Kehadiran kereta api ini diharapkan akan menjadi primadona baru sebagai moda trasportasi penghubung antar kota dipulau Sulawesi dan menyusul pulau Papua, untuk menjawab kebutuhan prioritas serta solusi atas permasalahan transportasi dan kepadatan lalu lintas.. KA ini digadang gadang sebagai kereta api bertaraf international dengan kemampuan yg melebihi KA yg ada dipulau jawa dan Sumatera. Dengan kecepatan yang bisa mencapai sekitar 200km/jam, kereta ini akan menyinggahi 23 stasiun kereta api di setiap daerah yang dilewati. Rel kereta lebih lebar serta bantalan rel yang lebih berat dari KA yg sudah ada di Indonesia. Dengan menggunakan sistem double track untuk mengangkut barang dan manusia, diharapkan  transportasi kedepannya akan menjadi satu pilihan transportasi umum yang tepat, cepat, aman dan murah.

Sebuah kalimat bijak menyebutkan 'Negara maju bukanlah negara tempat orang miskin mengendarai mobil, Ia adalah tempat orang kaya yg memanfaatkan transportasi publik'. Kalimat ini bisa jadi relevan jika di kondisikan dengan situasi tempat atau kota yang tingkat kemacetannya sudah mulai di keluhkan oleh masyarakatnya sendiri.

Seorang kawan yang bermukim di Jepang pernah bercerita, saat masih bersekolah dan berangkat bekerja dengan menggunakan kereta cepat atau dijepang disebut dgn nama Shinkansen. Ber-kereta bagi mereka adalah suatu aktifitas masyarakat yang sudah lazim untuk melakukan aktifitas keseharian, salah satunya dengan pulang pergi dari tempat kerja. Dengan kecepatan shinkansen yang berkisar 300km/jam, jarak tak lagi menjadi masalah bagi mereka yang telah terbiasa memegang prinsip kedisiplinan waktu.

Kabar terakhir menyebutkan, teknologi Shinkansen ini bahkan belum seberapa dibandingkan dengan rencana akan diwujudkannya sebuah kereta berteknologi Maglev (Magnet Levitation) di tahun 2045 mendatang. Teknologi ini digadang gadang akan melampaui kemampuan dari teknologi kereta api yang sudah ada. Maglev akan menjadi teknologi pertama didunia yang dibuat untuk lebih mengefisiensikan jarak tempuh. Konon katanya, saat kereta melaju dengan kekuatan penuh di kecepatan 600 san km/jam, badan kereta terasa melayang tidak berpijak lagi di rel, penumpang tetap dapat melanjutkan tidur tidur pagi, menyalakan gadget dan bercengkrama santai tanpa merasakan goncangan gesekan rel.

Teknologi Shinkansen ini, 'bede', membuat sebahagian besar pekerja Jepang akhirnya memilih untuk pulang pergi tanpa kuatir melanggar disiplin waktu kerja. Rata rata pekerja ada yang datang dari pulau sebelah atau tinggal beratus ratus mil dari tempat kerja tanpa kuatir telat dijam aktifitas. Budaya lingkungan dan teknologi yang mumpuni telah membentuk mereka untuk mencari zona nyaman sendiri dalam menyelesaikan rutinitas perjalanan transportasi. Selain bisa berhemat dengan menghindari biaya hidup di tempat tinggal sewaan, transportasi cepat ini membuat mereka masih bisa tetap berkumpul bersama keluarga dimalam harinya tanpa harus lagi mengeluarkan biaya hidup tambahan untuk tinggal di apartemen/flat sewaan di dekat kantor mereka.

***

(link terkait baca di sini)

Geliat ekonomi transportasi di hampir semua daerah termasuk kota Makassar selalu menunjukkan trend grafik meningkat di akhir pekan. Para penumpang yg umumnya pengguna kendaraan roda empat, baik itu pekerja yang berpisah dari keluarga ataupun masyarakat umum di kota dan daerah silih berganti datang dan pergi memadati terminal-terminal antar daerah di Propinsi Sulselbar. Karena minimnya waktu, sebahagian besar dari pekerja ini akhirnya memilih akhir pekan, merogok kocek di koridor terminal hingga kadang nyaris berdesakan hanya tuk sekedar bisa mendapatkan kursi demi dapat berkumpul menghabiskan waktu bersama diakhir pekan dengan keluarga

Tiga setengah tahunmi berlalu. Memasuki pertengahan tahun 2019, Pemerintah kota propinsi Sulsel melalui nahkoda barunya masih terus berupaya melanjutkan tongkat estafet finishing dari rencana ini. Pengerjaan pemanjangan rel terus digenjot untuk mengejar target penyelesaian kereta api yang katanya sieh di usahakan dapat rampung dan dioperasikan di tahun 2020.

Tentunya, kehadiran kereta api Sulsel ini nantinya diharapkan bisa ikut menambah kontribusi penunjang moda transportasi lama tapi baru yang kembali berapi api, berjaya, ikut mengisi peran dalam pembangunan di masa kini dan akan datang. Dan pada akhirnya, masyarakatlah nanti yang akan menilai serta merasakan langsung, sejauh mana kehadiran kereta api ini memang tak hanya tampil gagah gagahan, tapi betul di butuhkan untuk menunjang aktifitas keseharian, menambah pilihan masyarakat akan moda transportasi murah antar kota selain bus dengan waktu tempuh yang lebih cepat.

Pun, jika nanti target berbicara buruk dan kereta ini tak digandrungi masyarakat, maka yakin saja, tak menutup kemungkinan transportasi ini harus siap menanggung kerugian akibat biaya operasional transportasi. Tapi jikalau baik dan berjalan seperti apa yang di harapkan bersama, tentu kehadiran kereta api di bumi Celebes ini akan melahirkan sebuah ikon baru berupa moda massal baru yang murah dan terjangkau seperti halnya  sarana transportasi kereta api di pulau Jawa dan Sumatera di Indonesia. Aamiin.

BULAN JUNI DAN TEORI COCOKLOGI-NYA

Selasa, Juni 25, 2019 di Selasa, Juni 25, 2019


HUJAN BULAN JUNI


(Foto: Koleksi Pribadi)

Puisi dalam buku 'Hujan bulan Juni' milik Penyair Sapardi Djoko Damono (1940) ini kembali ramai berseliweran, melintas di beberapa lini masa medsos, sesaat sebelum masuk ke penanggalan bulan Juni.

-June, they are in Love-. Barisan bait yg di sadur dari beberapa penggalan puisi karya beliau seperti 'Aku ingin, Hujan Bulan Juni, pada suatu hari nanti, berjalan ke barat di waktu pagi hari' serta beberapa puisi lainnya ini kerap dijadikan sebagai puisi ritual tahunan bagi para 'pujangga dadakan' sebagai bentuk ungkapan penggambaran suasana hati mereka. Sudah jadi tradisi pula hampir  di setiap tahunnya, puisi pakde Sapardi ini di pinjam sebagai puisi pemanis untuk di jadi bagiankan dari text undangan pernikahan.

Bagi masyarakat umum, beberapa pujangga kelas medsos, kepada yang sedang jatuh hati namun tak pandai merangkai kata, bait puisi pakde SDD ini bisalah menjadi penolong, semacam penyelamat, sekedar untuk mewakilkan suasana hati, menumpahkan sentimental dalam menyambut datangnya bulan Suci eh Juni.

Belum diketahui, mengapa Sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono (SDD)  tak menyematkan bulan kelahirannya sendiri pada sampul buku puisi Hujan bulan Juni-nya. Saya menduga, selain beliau mungkin mempunyai kenangan di bulan Juni, bisa jadi beliau juga justru tak ingin terjebak dalam kenarsisan karya, menyelipkan bulan kelahirannya sendiri, untuk ia abadikan dalam judul buku yang ternyata dikemudian hari, ternyata kumpulan buku puisinya ini  menjadi salah satu buku yang wajib dimiliki oleh para pecinta sastra Indonesia sepanjang masa. Kumpulan 102 puisi yang sudah ditulisnya sejak dibangku SMA di tahun 1964 hingga tahun 1994 dan kini telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Jepang, Arab dan Mandarin.

Tapi rupanya, setelah membaca beberapa referensi, bulan Juni ini rupanya diambil berdasar pengalaman SDD itu sendiri saat libur kuliah dimana waktu itu udara kemarau di kota Jogja dan Solo terasa lebih dingin, kering dan menusuk tulang. Saat pindah ke Jakarta, udara malah sejuk karena hujan masih turun di bulan Juni.

Profesor SDD adalah seorang Pujangga. Puisinya sarat dengan kesederhanaan namun penuh dengan makna kehidupan. Karyanya populer tak hanya di kalangan sastrawan tapi juga masyarakat umum. Lahir dan besar di Surakarta, alumnus Sastra Inggris di Universitas Gajah Mada ini kemudian menjadi dosen Fakultas ilmu Sastra (Budaya) Universitas Indonesia) setelah sebelumnya secara aktif  intens menulis dan bergelut di dunia jurnalistik majalah sastra Horison.

Dengan minat besar dan pengalaman hidupnya tersebut, keilmuan beliau sudah sangatlah terasah.  Meminjam istilah sekarang, beliau piawai dalam mengolah susunan kata dalam puisi yang indah secara terstruktur, massif dan sistematis. Tapi meskipun namanya sudah termasyhur di jagad kesasteraan Indonesia, terkadang, masih ada juga satu dua yang menganggap puisi Hujan Bulan Juni ini adalah karya dari Kahlil Gibran, seorang penyair termasyur asal Lebanon yang memilih besar dan dimakamkan di New York.

Secara cocoklogi, kita bisa saja berasumsi, alasan pakde SDD tidak memilih nama bulan January hingga Maret sudah tepat. Alasannya adalah pada bulan tersebut, curah hujan sangatlah tinggi. Penggambaran hujan pada saat itu hanyalah lebih ke pembentukan opini dan mengingatkan kenangan orang orang yang pernah mengalami musibah banjir. Ini tentu bukanlah suasana romantisme hujan yang ingin dipindahkan kedalam puisi seperti yang pakde SDD harapkan.

Setelah juni itu sudah masuk musim kemarau. Tak ada lagi hujan di sepanjang musim kemarau. Yang ada hanyalah, di Bulan September – Desember. Akhiran nama itu juga ada celah tuk melahirkan meme. Meme adalah anekdot dalam tulisan ataupun gambar yang sifatnya lebih ke nyinyir atau menyindir. Pak SDD tau, di jaman mendatang, trend ilmu cocoklogi akan menimbulkan meme yang tak bertanggung jawab. Jika puisi memakai nama bulan berakhiran -Ber- pada empat bulan terakhir (September-Desember) tersebut, bagi sebahagian netizen tentu akan kembali mengaitkannya dengan romantisme; jika hujan, jangan lupa siapkan Ember :)

ASTROLOGI JUNI


Konon, Juni berasal dari kata Junius, kata yang disadur dari bahasa Latin. juga Referensi lain juga menyebut bahwa kata Juni itu berasal dari nama Juno dalam mitologi Roma yang merupakan nama istri dari Dewa Jupiter. Dewa Jupiter sendiri merupakan Dewa langit bersenjatakan petir yang sering dikaitkan dengan awan, hujan dan badai. Dengan kata lain, Juno dapat disebut juga sebagai Dewi tertinggi atau kepala para Dewi. Pada masa penanggalan Kalender Gregorius atau sistem kalender yang banyak dipakai orang di dunia barat saat itu, Bulan Juni tercantum dalam posisi urutan ke enam dari keseluruhan bulan dalam setahun dengan memiliki 30 hari penanggalan.

Dari sisi Astrologi dunia barat sendiri, Bulan Juni di naungi oleh dua zodiak yaitu bintang Gemini dengan berlambang logo Anak kembar (lahir di tanggal 1-20 Juni) dan bintang Cancer dengan lambang Kepiting (lahir di antara tanggal 21-30 Juni). Menurut kepercayaan Astrologi, dengan melihat tanggal dan bulan kelahiran maka, sifat dan karakter unik bawaan orang yang kebetulan lahir pada zodiak bulan itu dapat diketahui berdasarkan ilmu Horoskop.

Ngomong ngomong, apa sieh Horoskop itu? Horoskop adalah sebuah bagan atau diagram yang menggambarkan posisi bulan, planet dan kelahiran, karakter seseorang dipengaruhi oleh posisi benda langit saat ia lahir, dari sudut pandang ilmu Astrologi. Sebagai contoh, berdasarkan peruntungan jodoh dari sisi astrologi, sebaiknya mereka yang lahir dibulan Juni mencari jodoh pasangan yang lahir atau memiliki zodiak Aries, Taurus dan Virgo. Jodoh terbaik juni katanya sieh  yang lahir di antara bulan Maret April (Aries) – April Mei (Taurus)- dan Agustus September (Virgo).

Ramalan jodoh dan percintaan berdasar teori Astrologi ini di era tahun 90 an sangatlah marak. Ilmu Astrologi mempunyai rubrik tersendiri, mejeng terpampang di majalah bulanan remaja (Aneka Yess) saat itu. Jika edisi majalah bulanan telah tiba, beberapa teman sekolah yang berlangganan majalah itu demikian semangat tuk mengetahui nasib peruntungan asmaranya minggu depan. Saya sendiri ikutan nimbrung dan lebih tertarik untuk mengetahui nasib peruntungan keuangan daripada asmara minggu ini. :)

Sekali lagi, teori cocoklogi hanyalah fenomena dimana orang sering mencocok cocokkan sesuatu dan menarik kesimpulan dari kecocokan. Tujuannya untuk mencari pembenaran berdasar pemikiran sendiri, kadang juga dijadikan lelucon yang mengundang tawa.

Teori ini kembali mencuat ke permukaan kembali setelah beberapa waktu lalu di pemberitaan ramai tentang perdebatan polemik atas tuduhan simbol Illuminati dan dajjal yang di kaitkan kedalam rancang bangun sebuah Mesjid di Jawa Barat sehingga menimbulkan kontroversi dan perhatian banyak orang tuk ikut menanggapi.

Seiring waktu, Ilmu Astrologi dan teori cocoklogi lainnya, masih saja mengambil peran dalam kehidupan. Semakin kesini, masyarakat sudah semakin cerdas dalam memainkan teori cocoklogi serta tabayyun dalam menshare sebuah hoax.  Di sisi lain, beberapa masyarakat malah menjadikannya sebagai bahan Astrologi lucu lucuan saja. Batasan Astrologi adalah, posisi nya menjadi lemah saat sudah dibenturkan dalam ajaran Agama. Ilmu Astrologi  atau istilahnya nujum dan ramalan bintang sendiri menjadi hal yang terlarang karena dikategorikan kedalam bentuk kesyirikan.

KEUTAMAAN BULAN JUNI

Jika teori Horoskop lebih ke persoalan sifat dan peruntungan, berikut beberapa teori kecocokan yang coba saya rangkum berdasar pengalaman, mungkin cocok bagi saya, tapi bisa jadi tak sesuai dengan kecocoklogian anda:

1. Bulan Juni adalah Bulan Intropeksi 

Di karenakan posisi nya yang netral, berada di pertengahan tahun, bulan Juni dapatlah dijadikan sebagai bulan momentum untuk berintropeksi diri menelaah hasil target yag telah di capai selama enam bulan terakhir, sudah sejauh mana resolusi tahun ini terealisasi. Di beberapa perusahaan, khususnya yang bergerak di jasa keuangan, pertengahan tahun biasanya sedikit disibukkan dengan banyaknya penyajian laporan keuangan yang harus di buat, untuk menjadi bagian dari elemen dalam menyusun annual report diakhir tahun. Terkadang mereka harus lembur saban hari untuk mengejar deadline batas pelaporan yang satu dua diantaranya berpotensi denda.

2. Bulan Juni adalah bulan liburan anak sekolah

Masa liburan adalah masa yang paling dinanti khususnya bagi anak sekolah. Setelah ujian akhir, liburan panjang anak sekolah biasanya dimanfaatkan untuk pelesiran atau melakukan hal hal yang disenangi sebelum masuk ke tahun ajaran baru berikutnya. Terkadang musim liburan ini sedikit merepotkan juga bagi sebahagian orang tua yang masih bekerja mengingat mereka juga harus jauh jauh hari sebelumnya menyesuaikan jadual kerja agar dapat liburan bersama dengan anaknya.

3. Bulan Juni adalah Bulan Amalan

Jika Bulan Suci Ramadan merupakan keutamaan untuk mengejar bekal di akhirat, maka bulan Juni adalah bulan yang ikut menjadi bahagian untuk mengejar bekal di akhirat itu, Secara kebetulan selama lima tahun terakhir ini yaitu tahun 2014 - 2019 (sekarang), bulan Suci Ramadhan dan Ied itu jatuhnya di bulan Juni.

4. Bulan Juni - Bulan peralihan musim.

Di negara beriklim tropis khususnya Indonesia, Bulan Juni sering dijadikan penanda sebagai berakhirnya musim hujan. Curah Hujan semakin rendah dan akhirnya berganti kemarau. Sebaliknya di belahan bumi barat, Masuknya bulan Juni merupakan awal dari musim dingin yang berlangsung hingga Bulan Agustus. Di penanggalan Islam Hijriyah sendiri, bulan ke Enam yang di sebut sebagai Bulan Jumadil Akhir di artikan sebagai bulan akhir kekeringan.

5. Bulan lahirnya Pancasila dan beberapa Tokoh Besar Indonesia.

Bulan Juni adalah bulan Heroik. Bulan dimana 4 dari 7 Presiden RI (Soekarno, Soeharto, Habibie dan Jokowi), semuanya lahir di bulan Juni. Beberapa tokoh bangsa lainnya, diantaranya Jenderal Ahmad Yani, DI Pandjaitan, dan Letjen Soeprapto juga adalah 3 dari 7 Pahlawan Revolusi yang kebetulan lahir di Bulan Juni.

Nasionalisme bulan Juni semakin lengkap dengan resminya tanggal 1 Juni dijadikan sebagai Hari Lahir Pancasila. Salah satu alasannya dikarenakan, selain judul pidato yang di sampaikan Presiden RI Pertama Soekarno itu tepat pada tanggal 1 Juni 1945, isi pidatonya itulah yg kemudian menjadi rumusan dan dokumen untuk kemudian menjadi teks saat memproklamasikan hari kemerdekaan Indonesia Tanggal 17 Agustus 1945.

Beberapa hari kedepan, bulan Juni 2019 kembali menjadi saksi, terpilihnya (kembali) Presiden RI untuk masa kerja hingga 2024.

6. Juni, sering di jadikan quote di baju kaos
Hal ter-absurd dalam ilmu cocoklogi tentang Juni adalah jika lini masa medsosmu mulai di selipi iklan jualan baju "Lelaki terbaik lahir dibulan Juni, semua lelaki di ciptakan setara tetapi yang terbaik lahir di bulan Juni, Legend are born in June", dan quote narsis sejenis lainnya, maka itu berarti penanda, tak lama lagi kita akan merayakan bulan Juni.

SEANDAINYA DILAN ITU ANAK LORONG

Sabtu, Maret 16, 2019 di Sabtu, Maret 16, 2019



 

 Disclaimer:
Tulisan ini bukan untuk mereview film Dilan 1990 & 1991, tak mencaci tapi juga tak memuji, hanya sekedar beropini, mengeluarkan pendapat pribadi.
FIlm Dilan terbukti laris. Tercatat sebagai film Indonesia ketiga yang terlaris sepanjang sejarah film Indonesia setelah Warkop Reborn, Dilan 1990 dan ketiga yaitu Dilan 1991 itu sendiri. Sosok seorang remaja Dilan digambarkan sebagai sosok representasi remaja  di era tahun 90 an dengan taraf kehidupan ekonomi yang bisa dibilang menengah keatas lah.

Meski beberapa scene dalam film ini sempat menimbulkan kontra oleh segelintir pihak di awal penayangan pada  sebuah bioskop di kota Anu, penafsiran cerita oleh sebahagian pendemo tersebut tak mengurungkan animo penonton lain. Mereka tak terpengaruh dan pulang tanpa rusuh, pulang membawa pesan berdasar sudut pandang masing masing, tanpa harus terus saling ngotot laiknya dua kubu simpatisan jelang Pilpres 2019 yang pelaksanaan tinggal menghitung hari.



Terus terang saya tak ikut merasakan euforia larisnya novel Dilan di era 90 waktu itu. Tak mengenal sosok penulisnya, Pidi Baiq. Om Pidi waktu itu anak lorong mana ya? Saya yakin, tentu masih banyak juga yang kan mengacungkan tangan jika diberi pertanyaan senada. Penonton 6 juta ditambah 3 juta di film pertama dan kedua yang didominasi gen milenial itu tentu banyak diantara mereka yang juga baru mengenal dilan justru lewat filmnya. Yakin dan percaya saja tak perlu merasa kuper dan kehilangan jejak, jika belum membaca novelnya. Minat bacaan saya saat itu hanyalah lebih ke seputar komik standar.  Hanya berkutat dengan tokoh Julian, Dicky, George, Anne  dan peliharan berekornya, Timmi di serial lima sekawan nya Enid Blyton, kungfu Boy dan Majalah Ananda dengan sewa 1000/buku di depan lorong. Jika ada kelebihan jajan, terkadang juga membeli beberapa majalah remaja sekedar tuk memburu bonus posternya saja. 

Lain padang, lain belalang. Entahlah karena informasi yang kurang dan  dikarenakan karena mungkin juga  saat itu usia Dilan dalam novel saya perkirakan kira kira terpaut lima tahunan lebih tua, dan juga berangkat dari lingkungan yang tak sama, sehingga sampailah saya pada kesimpulan sementara bahwa sosok dilan di film tersebut adalah sosok yang bisa dibilang, belum bisa dikatakan dapat mewakili kehidupan keseharian dan asmara mayoritas kehidupan  generasi sembilan puluhan seperti anak lorong. Tsahh!!  :p

film adalah selera. Orang akan menonton film apa yang diminatinya.  Menonton film Dilan tak harus menunggu harus menyukai dahulu jenis genre film seperti ini. Bisa saja ketertarikan kita akan timbul karena melihat jejeran pemainnya, penasaran dengan cerita kemasan, setting latar kota dan lain sebagainya.  Mengintip gaya berkasih Dilan dan Milea di dalam filmnya, jangan berharap kamu akan menemukan gaya pacaran ala Syamsul Bahri di sinetron Siti Nurbaya, atau film Ketika Cinta Bertasbih nya Om Habiburrahman. Itu jika  suka dengan jenis/genre film yg saya sebutkan tadi. Jangan juga berharap melihat satu scene di mana mereka saling tersipu malu  dengan pipi merona diatas becak ala Ainun Habibie. Atau melihat Dilan laiknya SangAji, si anak kutu buku yang jenius dari keluarga sederhana dalam sinetron serial Rumah Masa Depan era TVRI di tahun 90an.  

Dilan bukanlah Lupus nya Hilman Hariwijaya. Tidak juga seperti si Boy Ongki Alexander  yang borjuis di film Catatan si Boy.  Penokohan Dilan adalah seorang pelajar 90 yang sedikit nakal, tak menonjol dalam prestasi sekolah, ketua geng motor yang kadang terlibat tawuran, pribadinya romantis, dengan gaya berkasih modern, sering mengantar pulang kekasihnya tanpa helm dengan berkendaran Honda CB100 klasik, fashionable dan nyentrik, yang tentunya semua ini  terbungkus dalam suatu penggambaran bahwa Dilan ini masuk dalam golongan kaum ‘The Have’ di jamannya.

Dilan itu sebenarnya jenius. Dan romantis. Saya belum tau buku bacaan atau selera buku Dilan ini yang bagaimana. Apa berkiblat ke Remy Sylado, Freddy S ataukah Sapardi Joko Damono. Biasanya kalau pemuda yang puitis dan pandai merayu ujung ujungnya bisa dilihat darimana muasalnya. Bisa jadi dari buku bacaan sastra seperti Rangga, ataukah dari pergaulannya di komunitas seni dan bawaan diri.  Okelah, romantic tak harus puitis. Gombalan Dilan digambarkan sebagai suatu rayuan yang simple dan mudah dicerna, tak berat, nyastra dan butuh perenungan mendalam sebelum memahaminya. Mungkin si penulis Pidi Baiq selain ingin memasukkan true storynya dengan porsi 50%, juga tak lupa  menambahkan khayalannya dalam bumbu fiksi di porsi 50 selebihnya. Suka suka dia tentunya ,karena dia 'tosseng sede'’ yang empunya cerita. Beberapa ulasan senada saya ikutkan saja dari laman favorit seperti Tirto, Mojok dan kumparan

Kembali ke kehidupan lorong. Moga moga Bang Herdy + Lia Adnan atawa disingkat Dilan, juga tak lupa, masih banyak janda janda miskin diluar sana eh pemuda pemuda era 90 diluar sana yang kehidupannya tak semewah tapi tetap romantic diluar sana. Apa dilan pernah merasakan nongkrong duduk duduk di depan lorong sambal bermain gitar menghitung orang yang berlalu lalang  di larut malam? Atau cobalah sesekali dilan mencoba rasakan duduk dibelakang motor menjadi milea, naik motor tanpa masker saat hujan. 

Bukannya romantis, perlu diketahui Dilan, membonceng anak orang tanpa helm saat hujan apalagi seorang anak perempuan itu sepertinya beresiko. Bisa jadi besoknya kalian terserang flu. Belum lagi kena marah dari orangtua. Perlu diketahui, terkena air hujan itu karena tak memakai pelindung wajah itu ibarat tersengat ribuan jarum yang terasa menusuk wajah. Apalagi jika kebetulan rumah Milea juga berada di dalam lorong. Bisa bisa satu lorong akan mencari tau, ni anak pulang dengan siapa. Masuk di lorong juga jangan balap balap. Sebaiknya perlahan. Selain banyak polisi tidur, jika belum beruntung, kamu hanya akan di tandai oleh preman lorong yang kebetulan lagi ingin rese.

Tapi jangan kuatir Dilan. Tak semua lorong seperti itu kok. Jika Mileanya tinggal di Lorong Garden atau Longgar, justru kamu mungkin akan kerasan karena nuansa lorong garden terasa sejuk dan hijau lengkap dengan gambar gambar keren dari program pemda setempat. Ohiya, Dilan juga harus sesekali merasakan sensasi pulang  sekolah dengan naik angkot. Atau menunggu tumpangan teman yang memiliki motor sampai di belokan dan nyambung naik pete pete? Trip pulang sekolahmi dijamin juga akan tetap romantis. Bisa santai melihat pemandangan kiri kanan dan yang pasti lebih selonjoran kaki.

Kesederhanaan itu mahal. Ya memang mahal. Contoh saja, sifat sederhana itu bisa jadi komoditi yang mahal saat mereka sudah sukses dikemudian hari. kehidupan kesederhanaan disaat susah justru menjadikan nilai diri menjadi naik. Ada hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Sifat kesederhanaan akan di kembali ditonjolkan dalam penggambaran saat masa masa perjuangan meraih cita. Akan diulas dengan bangga dalam buku biografi hingga menimbulkan empati kepada  para pembaca.

Sebelum lebih jauh, ngomong ngomong, Dilan  tau kan yang namanya lorong? kalau masih bingung, tak apa kita samakan saja dulu persepsi lorong secara universal. Lorong itu sinonimnya seperti Gang lah. Yang jalannya model jalan setapak kecil, terkadang mentok/buntu. Ada juga yang sudah beraspal dan bahkan sekarang seperti di kotaku, lorongnya sudah dibuat lebih hijau bahkan diberi gambar mural. Berkehidupan di dalam lorong itu banyak suka dukanya. Tepo seliro dan dada harus siap meladeni seliweran celoteh tetangga kiri kanan. Privacy lebih terbuka, dan hal yang mungkin tak lazim dari kebiasaan berkehidupan dilorong akan langsung tersoroti, sifat kegotong royongan yang tinggi dan lain lain. Lorong yang bukan lorong lorongan. Karena sekarang ini ada juga mengklaim dirinya anak lorong tapi setelah ditelisik dengan seksama, jalan depan rumahnya lebih tepat disebut jalan raya.

Mari menghargai Kenangan
Kenangan itu mengingat sesuatu dimasa lalu. Mengenang kembali masa masa indah atau sedih. Kenangan tak selalu harus dikenang. Jika ia hanya memberi dampak buruk sebaiknya tak usah dikenang karena hanya akan memberi genangan air mata.

Sebenarnya tak heran juga kenapa film Dilan bisa menjadi Box Office? Bisa jadi karena marketable nya dapat. Ada sasaran yang dicapai. Memanfaatkan kejenuhan cerita dan rasa ketertarikan bagi para penonton di era 90an, mengajak bernostalgia dan memberi rasa keingintahuan dari penonton dari generasi milenial.

Kenangan tak bisa dipaksa. Kenangan ku dengan kenanganmu bisa saja berbeda. Ini tergantung dari bagaimana pengalaman hidup yang telah dilalui,  minat, sudut pandang serta beberapa factor lain yang membentuk pengalaman akan kenangan itu sendiri. Kenangan itu identik dengan hal yang indah. Dan jika indah, ia patut dikenang. Kenapa harus mengambil contoh kenangan di lorong. Yahh, karena di era 90 puluhan, banyak juga pemuda sepantaran Dilan yang tentu punya cerita sendiri di jamannya. Ingin menyampaikan bahwa sebenarnya masih banyak kehidupan menarik diluar sana yang jauh lebih romantis dibanding kehidupan Dilan. Pengalaman hidup yang berbeda tentu  akhirnya membentuk karakter khas dari orang tersebut dalam bersikap dan bertingkah laku sehari hari.

Menghargai kenangan bentuknya berupa rupa. Sekarang ini dijaman informasi berada di ujung jari, informasi tumpah ruah untuk siap disapih. Di laman facebook, para penggiat kenangan diera tahun 80 -90, beberapa grup komunitas mengajak tuk berjejaring. Salah satu contohnya adalah Grup Hits From 80s to 90s yang diprakasai Nicko Krisna. Selengkapnya tentang Nicko dapat diliat di sini

Grup ini sempat booming beberapa waktu lalu dengan notifikasi hampir ribuan setiap hari. Sempat di ulas dibeberapa news dan infotainment, dari merchandise sampai kopi darat dan hingga kini meski mulai meredup sepeninggal nicko, grup ini masih menawarkan magnet bagi mereka suka dengan kenangan terlahir ditahun tersebut diatas.

Di kota Makassar sendiri, bentuk apresiasi mengenang kembali kenangan tahun 90 an dalam bentuk menggelar even tahunan Makassar Traditional Games Festival atau MTGF. Disana kita dapat menemukan aneka jenis permainan rakyat  seperti lompat tali, engrang, petak umpek, Meriam bambu dan lain sebagainya. Komunitas ini intesn mengggelar even secara gratis sejak beberapa tahun lalu dan biasanya lebih sering menggelar permainan di ikon ikon kota Makassar seperti Fort Rotterdam dan Monumen Mandala Makassar.

Sebelum mengakhiri, saya ingin menyimpulkan pesan bahwa Film Dilan ini sukses mengingatkan kembali semangat generasi tahun 90an tanpa harus menjelaskan dengan mengharu biru, pembuktian cinta dengan berakhir di ranjang sebelum ikatan pernikahan seperti laiknya film barat remaja .

Generasi  sembilan puluhan lah yang bisa diklaim sebagai generasi terakhir yang sukses merekam lagu Ace of Base selama berjam jama dari radio tape recorder lalu  akhirnya men-download lagu Virgoun Tambunan dari gadget. Dari  bermain karambol lalu berkutat dengan Prison Survivor di gadget, tertawa lepas ber-haha hihi diberanda rumah tanpa harus menyudut diri dibalik bantal memainkan tuts emoji karakter, menonton TV little House on the praire tanpa harus berebutan chanel lalu akhirnya melangkahi zaman setelahnya dengan menikmati segelas latte disudut kafe sembari menyimak channel AHHA di Youtube.

Generasi  sembilan puluhan adalah generasi yg layak disebut generasi paling beruntung. yang mengalami loncatan teknologi begitu mengejutkan di abad milenial dengan kondisi usia yang sekarang sudah paruh baya, mengenang suara riuh suara mesin tik saat jemari menari mengetik sebuah cerita blog diatas keyboard laptop.